Jumat, 03 November 2017

SKRIPSI OLAHRAGA

BAB I
PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dibahas hal-hal mengenai : (a) Latar Belakang Masalah, (b) Rumusan Masalah, (c) Tujuan Penelitian, (d) Hipotesis Penelitian, (e) Kegunaan Penelitian (signifikansi), (f) Asumsi, (g) Ruang Lingkup Penelitian, (h) Definisi Operasional Variabel.

A.    Latar Belakang Masalah
Atletik merupakan salah satu cabang olehraga yang masuk kurikulum sekolah. Hal ini dimaksudkan supaya siswa bisa mengenal cabang olehraga ini sejak dini. Karena sekolah atau lembaga pendidikan merupakan salah satu tempat yang sangat efektif untuk menyalurkan bakat dan minat siswa. Dengan adanya minat atau kemauan yang keras untuk berlatih serta didukung oleh bakat dan kemampuan yang bagus pada siswa diharapkan para siswa mencapai hasil yang maksimal baik ditingkat daerah, regional, nasional dan internasional.
Sekarang ini kita patut bangga dengan atlit-atlit pelajar yang telah berhasil meraih juara umum pertama pada pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional Pelajar Nasional (POPNAS) Tahun 2007 kemarin di Samarinda. Atlit-atlit dimaksud telah berhasil mengumpulkan 11 (sebelas) medali emas dan beberapa perak dan perunggu. Moment prestasi yang patut dibanggakan masyarakat NTB pada cabang olahraga atletik. Karena ini dapat mengubah image masyarakat terhadap cabang ini sekaligus bagaimana masyarakat dan pemerintah bekerja untuk melakukan pembinaan yang intensif dan konsisten.
Hal ini yang cukup menarik untuk dikritisi dalam pengamatan penulis. Cabang olahraga atletik dalam setiap kali diadakannya lomba, baik ditingkat daerah, nasional, regional dan internasional. Seseorang atlit sering mengikuti lomba di dua nomor sekaligus. Termasuk diantaranya lari 100 meter (sprint) sekaligus lompat jauh. Atlit lompat tinggi sekaligus lompat galahdan lain sebagainya.
Adapun hubungan yang sangat erat antara karaktristik gerak cabang olahraga dengan kommponen-komponen fisik yang mendukung pencapaian seorang atlit, ini yang mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul “Studi Korelasi antara Kecepatan Lari 100 meter dengan Prestasi Lompat Jauh Pada Siswa Putra Kelas XI SMA Maraqitta’limat Wanasaba Lotim Tahun Pelajaran 2008/2009”. Karena untuk mencapai prestasi lompat jauh tentu harus didukung oleh faktor-faktor antara lain, pengambilan awalan, kecepatan lari, kekuatan menolak, ketepatan mendarat serta kondisi fisik saat melakukan lompatan.

B.    Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah ada korelasi lari sprint 100 meter terhadap prestasi Lompat Jauh pada siswa putra kelas XI SMA Maraqitta’limat Wanasaba Lotim Tahun Pelajaran 2009/2010. ?


C.    Tujuan Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini bertujuan “ untuk mengetahui ada atau tidak adanya korelasi lari sprint 100 meter terhadap prestasi Lompat Jauh pada siswa putra kelas XI SMA Maraqitta’limat Wanasaba Lotim Tahun Pelajaran 2009/2010”.

D.    Hipotesis Penelitian
Hipotesis (Hipothesis) berasal dari kata Hipo berasal dari bahasa yunani yang berarti di bawah, kurang, lemah. Thesa dalam bahasa Yunani mempunyai arti teori, proposi yang dijadikan sebagai bukti. Jadi hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya. (Sutrisno hadi, 1976 : 24)
Winarno Surachmad, mengemukakan secara Etimologi, Hipotesis berarti sesuatu yang kurang dari (Hypo), sebuah kesimpulan adalah pendapat (thesa). Dengan kata lain bahwa, Hipotesa adalah sebuah kesimpulan  pendapat tetapi itu belum final, masih harus dibuktikan kebenarannya. “Hipotesis adalah suatu jawaban dugaan, anggapan besar kemungkinan untuk menjadi jawaban yang benar”. (Winarno Surachmad, 1983 Hal. 38)
Sedangkan ahli lain mengatakan bahwa, “Hipotesis tidak lain dari jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris”. (Moh. Nasir, Ph.D, 1983, hal. 18).
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penulis dapat mengemukakan hipotesis yaitu :


“Ada Korelasi antara kecepatan lari 100 meter terhadap prestasi Lompat Jauh pada siswa putra kelas XI SMA Maraqitta’limat Wanasaba Lotim Tahun Pelajaran 2009/2010”.

E.    Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1.    Kegunaan Teoritis
1.1.    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan sebagai bahan pembanding bagi para ilmuan dalam usaha meningkatkan teknik lari sprint 100 m dan lompat jauh.
1.2.    Bagi peneliti lain diharapkan sebagai motivasi dalam mengadakan penelitian secara mendalam tentang lari 100 meter dan lompat jauh yang belum terjangkau dalam penelitian ini.
1.3.    Hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman bagi para Pembina dan para pelatih lari 100 meter dan lompat jauh untuk membina atlit yang ada di Nusa Tenggara Barat.
2.    Kegunaan Praktis
Informasi yang diperoleh melalui penelitian ini diharapkan berguna bagi para guru olah raga dan pendidik serta adik-adik kelas saya dalam mebina dan meningkatkan prestasi lari sprint 100 m dan lompat jauh, khususnya sekarang ini bagi siswa di SMA Maraqitta’limat Wanasaba Lotim.


F.    Asumsi
Asumsi adalah anggapan dasar tentang suatu masalah atau fakta yang sudah mengandung kebenaran tanpa perlu melakukan pembuktian. Dengan kata lain masalah yang dipaparkan dalam asumsi tidak perlu lagi diuji kebenarannya, Hal ini sesuai dengan pendapat yang mengatakan bahwa anggapan-anggapan dasar adalah suatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang akan berfungsi sebagai hal-hal yang dipakai untuk tempat berpijak bagi peneliti dalam melaksanakan penelitiannya  (Suharsimi Arikunto, 1972)
Berdasarkan pendapat penulis diatas, maka asumsi dalam penelitian ini adalah
1.    Asumsi Dari Segi Teoritis
Subjek penelitian relatif homogen karena dilihat dari kelas, usia dan postur tubuh relatif sama. Secara teknis bahwa semakin cepat atlit lompat jauh melakukan lari maka semakin tinggi kemampuan melakukan ekselarasi
2.    Asumsi Dari Segi Metodik
Asumsi metodik yang dikemukakan:
2.1.    Metode penentuan subyek adalah studi populasi
2.2.    Metode pengumpulan data adalah metode tes perbuatan dan documenter
2.3.    Metode analisa data menggunakan analisa statistik dengan rumus product moment.

3.    Asumsi Dari Segi Pelaksanaan
Asumsi pelaksanaan penelitian adalah sebagai berikut :
a.    Datanya jelas
b.    Sumber datanya ada
c.    Hubungan sumber data dengan peneliti baik
d.    Lokasi dapat dijangkau oleh ;peneliti baik dilihat dari segi waktu, tenaga maupun biaya
G.    Ruang Lingkup Penelitian
Adapun ruang lingkup dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.    Subyek peneliti adalah terbatas pada siswa putra kelas XI SMA Maraqitta’limat Wanasaba Lotim Tahun Pelajaran 2008/2010
2.    Obyek penelitian adalah terbatas pada korelasi sprint 100 meter terhadap perestasi lompat jauh pada siswa putra kelas XI SMA Maraqitta’limat Wanasaba Lotim Tahun Pelajaran 2009/2010
3.    Lokasi penelitian adalah di SMA Maraqita’limat Wanasaba Lotim sendiri 
H.    Definisi Operasional Variabel
Untuk lebih memberikan penjelasan mengenai variabel penelitian yang berhubungan dengan data-data, maka perlu dijelasan beberapa istilah yang dianggap penting sebagai berikut :
1.    Lari Sprint 100 meter adalah suatu nomor lari yang lilakukan atau ditempuh dengan kecepatan penuh sepanjang jarak 100 meter (Depdikbud.1972).
2.    Lompat jauh adalah “salah satu cabang atlit nomor lompat yang dilakukan dengan melompat sejauh-jauhnya”
Read more

SKRIPSI OLAHRAGA

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah
Dalam penelitian Tenis Meja cukup banyak tehnik-tehnik dasar termasuk cara memegang Bed, servis maupun tehnik pukulan. Memang kita lihat gerakan pada permainan Tenis Meja sangat mudah sekali dalam menempatkan bola ke daerah lawan, tetapi dalam pelaksanaannya Atlet mengalami kesulitan terutama mengarahkan bola ketempat yang sulit dijangkau lawan.
Dalam permainan Tenis Meja cara memegang bed akan ikut menentukan teknik permainan, stroke dan cara mengembangkan permainan itu sendiri. Pada permainan Tenis Meja banyak mempergunakan dua jenis grip atau pegangan yaitu satu grip untuk pukulan di sisi kanan atau porhand stroke dan grip lainnya untuk pukulan di sisi kiri atau backhand grip. Cara seperti ini sebenarnya kurang efesien karena pada waktu bertanding tidak ada waktu untuk berpikir dalam mengganti-ganti grip. Untuk mengatasi masalah ini maka dalam permainan Tenis Meja  dikenal dua jenis grip Shakenhand grip dan penholder grip yang masing-masing mempunyai variasi, keuntungan dan kekurangan.
Berdaarkan gejala tersebut di atas peneliti ingin mengetahui mana yang lebih tepat dari kedua jenis pegangan tersebut sehingga dalam penelitian ini ingin mengadakan penelitian yang berjudul “Study Perbandingan Pegangan Sakendhand Dengan Penholder Terhadap Ketepatan Pukulan Pada Permainan Tennis Meja Pada Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur Tahun Pelajaran 2007/2008.

B.    Rumusan Masalah
Dari uraian tersebut di atas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut : Apakah ada perbedaan antara pegangan sakenhand dan penholder terhadap ketepatan pukulan pada permainan Tenis Meja

C.    Tujuan Penelitian
Dengan adanya tujuan yang jelas dapat dijadikan pedoman dan agar dapat tercapai tujuan yang diharapkan.
Tujuan penelitian ini adalah “untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara pegangan sakenhand dengan penholder terhadap ketepatan pukulan pada permainan Tenis Meja”

D.    Signifikansi Penelitian
1.    Signifikansi Teoritis
Signifikansi Teoritis artinya kegunaan bagi para ilmuan (Indun, 1988 hal : 11)
Adapun Signifikansi Teoritis dalam penelitian ini adalah:
1.1.    Hasil penelitian ini dapat dijadikan pedoman bagi para ilmuan olahraga dalam menerapkan tehnik pegangan dalam permainan Tenis Meja.
1.2.    Hasil penelitian dapat dijadikan pedoman bagi para Pembina dan peneliti Tenis Meja, untuk melatih cara memegang bed yang benar dan efisien.
1.3.    Bagi peneliti lain diharapkan termotivasi dalam mengadakan penelitian secara mendalam tentang penelitian Tenis Meja yang belum dijangkau dalam penelitian ini
2.    Signifikansi Praktis
Signifikansi peraktis artinya kegunaan bagi pelaksanan (Indun, 1986 ; hal 11).
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu sebagai tambahan iformasi dalam rangka memajukan Tenis Meja, khususnya bagi guru Penjaskes/Pembina olahraga pada Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur Tahun Pelajaran 2007/2008, karena dengan menggunakan pegangan sakenhand dan penholder yang baik dan tepat maka akan lebih baik hasil yang dicapai dalam usaha meningkatkan prestasi olahraga Tenis Meja yang ada di Nusa Tenggara Barat ini.

E.    Hipotesis Penelitian
Dalam buku metode penelitian dijelaskan bahwa “Hipotesis adalah Jawaban sementara terhadap permasalahan yang secara teoritis dan dianggap paling untung atau paling tingkat kebenarannya “(Margono, tahun 1997;62) ahli lain mengatakan bahwa “hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti kebenarannya” (Arikunto, tahun 1989;62)
Dari kedua pendapat di atas, maka yang dimaksud dengan hipotesisi adalah pernyataan atau jawaban yang bersifat sementara dari permasalahan penelitian
Sehubungan dengan penelitian ini, maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut: Apakah ada perbedaan antara pegangan shakehend dengan penholder terhadap ketepatanpukulan Pada Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur Tahun Pelajaran 2007/2008.

F.    Asumsi
Asumsi adalah anggapan suatu masalah atau fakta yang sudah mengandung kebenaran tanpa melakukan pembuktian. Hal ini sesuai dengan pendapatan yang mengatakan “Apakah dasar adalah suatu yang diyakini kebenarannya oleh peneliti yang akan berfungsi sebagai hal yang dipakai untuk berpijak dalam melaksanakan penelitian” (Suharsimi Arikunto, tahun 1983; hal 15). Ahli lain mmengatakan bahwa “Anggapan dasar adalah suatu titik tolak pemikirannya diterima oleh penyelidik) Winarwo Surakhmad, tahun 1972 ; hal 92)
Atas dasar pertimbangan asumsi di atas maka penelitian menggunakan asumsi sebagai berikut:
1.    Asumsi dari segi teoritis
1.1. Pemain yang memiliki pegangan yang baik akan dapat melakukan pukulan yang tepat dan dapat menempatkan bola ketempatan yang sulit dijangkau lawan, sehingga permainan tersebut mendapat keuntungan dalam melakukan serangan pada permainan Tenis Meja.
2.    Asumsi dari segi metodik
Penelitian ini dapat terlaksanan karena didukung oleh metodik penelitian antara lain :
    Metode penentuan subyek adalah study populasi
    Metode pengumpulan data adalah metode tes perbuatan dan documenter
    Metode analisis data adalah analisis statistic dengan rumus t-test
3.    Asumsi dari segi pelaksanaan
Penelitian ini akan terlaksanan jika :
    Datanya jelas
    Sumber data ada
    Hubungan sumber data dengan peneliti baik
    Lokasi dapat dijangkau oleh peneliti, baik dilihat dari segi waktu, tenaga maupun biaya

G.    Ruang Lingkup Penelitian
Sesuai dengan judul penelitian ini maka ruang lingkup penelitian perlu dibatasi.
1.    Subyek yang diteliti adalah Tennis Meja Pada Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur Tahun Pelajaran 2007/2008.
2.    Obyek yang diteliti terbatas pada studi perbandingan antara pegangan shakehand dengan penholder terhadap ketepatan pukulan Tennis Meja Pada Siswa Kelas II SMP Negeri 3 Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur Tahun Pelajaran 2007/2008.

H.    Cara Pendekatan
Cara pendekatan dalam suatu penelitian pada umumnya dapat dibagi dua yaitu :
1.    Pendekatan Eksperimen
Pendekatan eksperimen adalah suatu pendekatan di mana gejala yang akan diteliti ditimbulkan secara sengaja artinya gejala yang hendak diselidiki oleh pihak peneliti dibentuk dalam suasana buatan untuk selanjutnya dapat dilakukan pengamatan secara teliti.
2.    Pendekatan Empiris
Pendekatan empiris ini mengisyaratkan bahwa gejala yang diselidiki telah muncul dengan sendirinya tanpa melibatkan pihak lain
Pemikiran ini didasarkan pada pendapat yang mengatakan “Pendekatan metode eksperimen adalah cara pendekatan yang digunakan dimana situasi dan kondisi ditimbulkan dengan sengaja dijadikan obyek penelitian (Masrun tahun 1972; hal 7)
Jadi dalam penelitan ini penulis menggunakan pendekatan eksperimen, karena gejala yang diselidiki atau diteliti dalam pennelitian ini dilakukan dengan sengaja.

I.    Definisi Operasional Variabel
Untuk tidak terjadi salah pengertian mengenai istilah-istilah yang terdapat pada judul tersebut, maka penulis menjelaskan maksud dan beberapa istilah tersebut antara lain:
1.    Study
Menurut Poerwadarminta kata study mempunyai arti “Mengadakan penyelidikan (Poerwadarminta, tahun 1987 ; hal 965)”. Sedangkan ahli lain mengatakan study berarti pelajaran yang menggunakan waktu dan pikiran untuk memperoleh pengetahuan (Zaenal Arifin, 1984; hal 186).
Bertitik tolak pada pendapat di atas, maka study yang dimaksud penulis adalah “suatu penyelidikan atau mempelajari untuk dapat memahami suatu masalah untuk dijadikan
2.    Perbandingan
Kata perbandingan biasa dipergunakan untuk mengetahui kedudukan dari suatu benda atau perkara lain. Kata perbandingan mempunyai arti “Perbandingan beberapa benda atau perkara” (Poerwadarminta, tahun 1976; hal 84).
Sedangkan menurut ahli lian mengatakan perbandingan kata dasarnya “Banding” berarti membandingkan, menyamakan yaitu benda atau persamaan (Horahap. E.S.T. tahun 1954;hal 29).
Jadi perbandingan penulis maksud adalah suatu perbandingan untuk mengetahui perbedaan yang satu dengan yang lain.

3.    Shkehand Grip
Shakehand grip adalah cara memegang bed seperti halnya kita menjabat tangan seseorang (Dra. Moekarto Merinan. M.Pd. tahun 2004 hal
787). Keuntungan dari pegangan ini adalah kedua muka bed dapat dipergunakan, selain itu pemain dapat melakukan forehand stroke dan tanpa mengubah pegangan bed.
4.    Penholder Grip
Penholder Grip adalah cara memegang bed seperti halnya kita memegang bolpoin (Dra. Moekarto merinan, M.Pd tahun 2004 ; hal 787). Dengan penholder grip pemain hanya dapat mempergunakan suatu Permukaan bed, baik untuk forehand stroke maupun untuk backhand stroke.
5.    Ketepatan Pukulan
Menurut seorang ahli mengatakan ketepatan adalah “Ketepatan individu menempatkan bola atau mengarahkan bola berada di atas meja, daerah mana yang terbaik bola jatuh pada petak yang bernomor 1,2,3,4,5,6,7,8 dan 9 petak meja (Soetomo, tahun 1987 ; hal 556)
Yang dimaksud dengan ketepatan pukulan pada penelitian ini adalah ketepatan individu menempatkan bola atau mengarahkan bola ketempat yang tidak bisa dijangkau oleh lawan pad saat bola berada di atas meja.





BAB II
KAJIAN PUSTAKA


Dalam bab ini akan dibahas hal-hal yang berhubungan dengan teori yang dijadikan pendukung pelakana penelitian. Teori-teori yang dimaksud sebagai berikut A. Sejarah Permainan Tenis Meja B. Tehnik dan Starategi Permainan Tenis Meja C. Peralatan/Pasilitas Permainan Tenis Meja D. Perbandingan Pegangan Shakehand dengan Penholder Terhadap Ketepatan Pukulan Pada Permainan Tenis Meja.

A.    Sejarah Permainan Tenis Meja
Tennis Meja dahulu lebih dikenal dengan nama pingpong sebagai hasil perkenaan bola dengan meja. Tennis meja ini tidak begitu banyak diketahui dengan pasti darimana asalnya, kapan ditemukan dan siapa penemunya.
Hanya dari beberapa literatur yang ada bahwa pada akhir abad 19 bebrapa opsir dari daerah koloni Inggris di Afrika selatan telah mengadakan suatu permainan tenis di atas meja sebagai reaksi diwaktu luang dan meja yang dipergunakan belum ada peraturan yang menentu.
Kemudian pada abad ke 20, permainan ini mengalami perkembangan terutama di Negeri Inggris dan benua Eropa pada umumnya dan tidak ketinggalan pula bentuk raket dan bola yang dipergunakan disempurnakan, Pada bulan desember 1926, di kota London (Inggris) diadakanlah suatu konfrensi antar negara-negara peserta dan dari hasil konfrensi tersebut dibentuklah fedrasi tenis meja atau ping-pong Internasional yang disingkat menjadi ITTF (International Table Tennis Fedration) dengan Mr. Ivot Montagu dari negeri Inggris sebagai ketuanya.
Olahraga tenis meja atau ping-pong di Indonesia baru dikenal pada tahun 1930 dan inipun yang memainkan masih terbatas sekali yaitu orang-orang Belanda buat rekreasi, sedangkan bangsa pribumi masih terbatas pada keluarga tertentu. Dan pada tahun 1940 sudah banyak dimainkan oleh orang-orang pribumi terutama di sekolah-kolah dan di kantor-kantor yang mengakibatkan timbulnya beberapa klub ditiap-tiap kotadi Indonesia.
Pada tanggal 5 oktober 1951 di Surabaya diadakan kongres yang pertama kalinya dan telah menghasilkan suatu Ikatan Tenis Meja se Indonesia yang disebut dengan nama Persatuan Ping-Pong Seluruh Indonesia (PPPSI).
Pada tahun 1958 pada kongres yang di adakan di Surabaya diadakan suatu kongres tenis meja atau ping-pong yang mana keputusannya yang diambil antara lain merubah nama persatuan ping-pong seluruh Indonesia menjadi Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI). Brgitu pula pada tahun 1960 PTMSI diterima menjadi Pedrasi Tenis Meja Asia yang disebut TTFA (Table Tenis Fedration Of Asia) dan pada tahun 1961 PTMSI telah diterima menjadi anggota Fedrasi Tenis Meja International yang disebut ITTF.








B.    Tehnik dan Starategi Permainan Tennis Meja
1.    Pengertian Tehnik
Tehnik yang dimaksud mengandung pengertian yang pada umumnya tidak jauh berbeda dengan yang dirumuskan sendiri adalah sebagai berikut :
“Tehnik adalah kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu gerakan secara efisien dan produktif secara terarah (Sudiro, tahun 1976 ; hal 26).” Ahli lain mengatakan “Tehnik adalah suatu proses melahirkan pembuktian dalam perakek sebaik mungkin untuk menyelesaikan tugas (Jan Tolalesi, tahun 1980 ; hal 26)”
dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tehnik adalah kemampuan seseorang untuk melakukan suatu gerakan secara efisien dan produktif dalam peraktek untuk menyelesaikan tugas.
2.    Tehnik-Tehnik Dasar Tenis meja
Dalam permainan Tenis Meja cara memegang bed akan ikut menentukan tehnik permainan stroke dan cara mengembangkan permainan itu sendiri, cara memegang bed tidaklah terlalu sulit karena pegangannya kecil.
Dalam permainan Tenis Meja dikenal dua jenis grip, yaitu shakenhand grip dan penholder grip, yang masing-masing mempunyai pariasi berbeda dalam penggunaannya antara lain:


3.1.    Shakenhand Grip
Shakenhand Grip atau pegangan berjabat tangan ini adalah cara memegang seperti halnya kita berjabat tangan, cara ini sangat populer di Eropa dan Amerika. Keuntungannya dari pegangan ini adalah kedua muka bed dipergunakan, selain itu pemain dapat melakukan forehand stroke dan tanpa mengubah pegangan bed.
3.2.    Penholder Grip
Penholder grip atau pegangan pena adalah cara ini lebih dikenal di Asia dengan penholder grip pemain hanya dapat mempergunakan suatu permukaan bed, baik untuk permukaan porehand stroke maupun backhand stroke
Dari kedua jenis pegangan tersebut ada dua hal yang perlu diperhatikan antara lain :
a.    Pegangan jangan terlalu kuat dan erat karena apabila bed dipegang terlalu erat, maka tangan akan kaku sehingga gerakan menjadi lambat. Hal ini menyebabkan pengembalian bola yang sukar untuk dikontrol, lebih-lebih apabila lawan memiliki pukulan top spin yang baik atau memiliki yang keras
b.    Harus mampu memainkan bed artinya seorang pemain harus mampu mengatur kemiringan atau sudut permukaan bed. Apabila ini dapat dilakukan dan sesuai dengan jenis pukulan lawan, maka semua serangan atau pukulan lawan dapat dibendung dan dikembalikan dengan baik.
Mengenai besar kecilnya sudut bed sukar ditentukan, artinya seorang pemain tidak dapat mengetahui berapa derajat bed yang dipegang menghasilkan pukulan tertentu. Olehkarena itu kemiringan bed yang digerakkan oleh seorang pemain pada waktu memeukul bola harus disesuaikan dengan jenis pukulan yang dikehendaki, untuk menguasai hal itu diperlukan pengalaman dan latihan yang berulang-ulang.
3.    Strategi
Dalam strategi banyak mencakup unsur-unsur yaitu : pertama menganalisa kekurangan sendiri, dan yang kedua menganalisa pada pihak lain. Permainan lawan harus dipelajari agar diketahui kelemahannya begitupula sebaliknya. Seorang pemain harus bisa menyembunyikan kelemahannya, jadi seorang pemain hendaknya dapat menguasai berbagai macam pola permainan agar pihak lawan tidak cepat dapat menguasai permainannya.
Beberapa petunjuk yang dapat dijadikan pedoman dalam strtegi bermain tenis meja antara lain :
3.1.    Pukulan bola harus keras kearah dari posisi lawan
3.2.    Pukulan bola sejauh mungkin dari posisi lawan
3.3.    Mengusahakan pihak lawan berlari sebanyak mungkin agar kita mempunyai kesempatan untuk menyerang.
3.4.    Mengusahakan pola permainan yang berubah, dengan demikian pihak lawan tidak mudah mengetahui arah pukulan yang akn dilakukan.
3.5.    Mengusahakan pukulan yang tidak mudah diterka oleh pihak lawan.
C.    Peralatan/Pasilitas Permainan Tenis Meja
1.    Meja
Permukaan meja tempat bermain harus berbentuk segi empat, dengan panjang 2,74 M dan lebar 1,525 M, dan harus datar dengan ketinggian 76 cm di atas lantai. Permukaan bola boleh terbuat dari bahan apa saja, namun harus menghsilkan pantulan sekitar 23 cm dari bola yang di jatuhkan dari ketinggian 30 cm
Seluruh permukaan harus berwarna gelap dan pudar dengan garis putih selebar 2 cm pada tiap sisi panjang dan sisi lebar meja. Untuk ganda setiap bagian meja harus dibagi dalam dua bagian yang sama dengan garis tengah berwarna putih selebar 3mm
2.    Perangkat Net
Perangkat net harus terdiri dari net, perpanjangannya dan kedua tiang penyangga.termasuk kedua penjempit yang diletakkan kemeja. Ketinggian sisi atas net secara keseluruhan harus 15,25 cm di atas permukaan meja
3.    Bola
Bola harus bulat dengan diameter 40 mm, berat bola harus 2,7 gram, bola terbuat dari Celulos (Celloid), atau sejenis bahan pelastik dan harus berwarna putih atau oranye
4.    Bad/Raket
Ukuran berat dan bentuk bed tidak ditentukan tetapi daun bed harus datar dan kaku, ketebalan bed minimal 85% terbuat dari kayu, dapat dilapisi dengan bahan perekat yang berserat, seperti fiber karbon atau fiber gelass.
Karet penutup daun bed tidak melebihi bed itu sendiri, kecuali pada bagian yang terdekat dari kayu yang pegang dan yang ditutupi oleh jari-jari, yang ditutupi oleh bahan lain atau tidak ditutupi.
5.    Pakaian
Pakaian bertanding biasanya terdiri dari kaos lengan pendek atau tanpa lengan, celana pendek atau rok khusus perempuan, sepatu, kaos kaki, pakaian lain seperti training spak tidak dapat digunakan kecuali atas izin Referee/Wasit. Warna dasar  pakain harus berbeda dari warna bola yang digunakan.
D.    Perbandingan Pegangan Shakehand dengan Penholder Terhadap Ketepatan Pukulan Pada Permainan Tenis Meja.
1.    Shakenhand Grip (Pegangan Jabat tangan)
Memegang bed dengan jabat tangan sama seperti kita berjabat tangan, yaitu bila gagang atau pegangan bed disodorkan seolah-olah sebagai tangan yang disalami, cara ini sangat populer di Eropa dan Amerika.
Keuntungan dari pegangan ini adalah kedua muka bed dapat dipergunakan, selain itu pemain dapat melakukan forehand stroke dan tanpa merubah pegangan bed. Sebaliknya memegang bed tidak terlalu kuat atau erat karena akan menyebabkan tangan akan kaku sehingga gerakan akan menjadi lambat, hal ini akan mengakibatkan pengembalian bola yang sukar untuk di kontero, lebih-lebih apabila lawan memiliki pukulan top spin yang baik dan keras.
2.    Penholder Grip (Pegangan pena)
Memegang bed dengan penholder grip caranya sama seperti kita memegang pena, yaitu antara ibu jari dan jari telunjuk dipisahkan oleh gagang/pegangan bed dan ketiga jari lainnya ada di belakang bed
Memegang bed dengan cara ini, biasanya dipergunakan oleh pemain yang mempunyai gaya normal menyerang karena mempunyai waktu yang lebih cepat dalam mengembalikan bola yang diakibatkan oleh perkenaan bola terhadap suatu permukaan bed.
Cara memegang gaya pegangan tungkai pena sangat baik untuk melakukan pukulan dengan bagian belakang dan bagian muka bed. Dimana ayunan bagi gelombang sewaktu memeukul bola yang datang dari lawan, sulit ditangkap oleh lawan yaitu pada waktu dia memegang bednya tidak diketahui apakah akan melakukan pelintiran bola pada puncak bed, sisi bed, atau dari balik bed.
3.    Ketepatan Pukulan
Menurut Arma Abdullah, M.Sc. ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalampukulan baik dalam pegangan shakenhand maupun penholder yaitu :
a.    Ayunan ke belakang dan titik perhatian becking, pada waktu bola akan datang putarlah badan kearah kiri sehingga menghadap kearah samping meja atau garis tepi, berat badan berada pada kaki kiri, bersamaan dengan gerakan tersebut, tariklah bed kebelakang dan tongkat bed menghadap sedikit ke bawah.
b.    Saat berkenaan bola dengan bed (titik perkenaan) ; “bersamaan dengan berpindahnya berat badan dari kanan ke kiri dan pada saat itu bola berada di samping kanan badan, maka saat perkenaan bola dengan bed. Apabila bola berada agak di depan badan maka langkah kaki kiri kedepan sehingga mengakibatkan perkenaan bola dengan bed tepat pada sasaran.
c.    Gerakan lanjut (Follow Throght)” jadi gerakan lanjutan ini mengangkat bola untuk dapat melewati jaring , selanjutnya memantulkan meja lawan, ayunan kebelakang, saat perkenaan bola dengan bed dan gerakan lanjutan ini merupakan gerakan keseluruhan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, jadi merupakan satu kesatuan pukulan.
Read more

SKRIPSI OLAHRAGA

BAB I
PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dibahas hal-hal mengenai : (a). Latar Belakang Masalah, (b). Rumusan Masalah, (c). Tujuan Penelitian, (d). Hipotesis Penelitian, (e). Kegunaan Penelitian (Signifikansi), (f) Asumsi Yang Digunakan, (g). Ruang Lingkup penlitian, (h). Cara Penelitian.
A.    Latar Belakang Masalah
Bangsa Indonesia Negara yang sedang berkembang dan sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan disegala bidang, termasuk pembangunan dalam bidang Olah Raga. Namun demikian, pencapaian prestasi atlit didak hanya didukung oleh adanya kelengkapan alat-alat dan fasilitas yang tersedia, akan tetapi dengan latihan yang terperogram dan teratur akan tercipta atlet-atlet dengan penampilan bermutu. Demikian halnya dengan Olah Raga Cabang Atletik khususnya Lompat Jauh, memerlukan latihan yang terperogram.
Dalam Olah raga Atketik khususnya Lompat Jauh terdapat bermacam-macam teknik yang harus dikuasai antara lain : Awalan, tolakan tumpuan, dan sikap waktu mendarat. Dalam Lompat Jauh terdapat 3 macam gaya antara lain:
1.    Gaya Menggantung
2.    Gaya Jalan diudara
3.    Gaya Jongkok
Dari ketiga gaya tersebut, mungkin masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri dengan cara pelaksanaannya tergantung pada msing-msing atlet.
Dari uraian diatas dalam penelitian ini penulis mencoba meneliti tentang perbandingan antara gaya mengantung dengan gaya jalan diudara pada siswa kelas IX SLTP N 3 Aikmel Lombok Timur Tahun Pelajaran 2007/2008.
B.    Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah, maka rumusan maslaah dalam penelitian ini adalah apakah ada perbedaan prestasi lompatan antara gaya Mengantung dengan Gaya Jalan di Udara pada siswa kelas IX SLTP N 3 Aikmel Lombok Timur Tahun Pelajaran 2007/2008.
C.    Tujuan Penelitian
Setiap usaha yang dilakukan seseorang tentunya mempunyai tujuan yang ingin dicapai. Demikian pula dengan penelitian ini. Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan prestasi lompatan antara gaya Mengantung dengan Gaya Jalan di Udara pada siswa kelas IX SLTP N 3 Aikmel Lombok Timur Tahun Pelajaran 2007/2008.
D.    Hipotesis Penelitian
Pada umumnya setiap peneliti menggunakan hipotesis. Demikian juga terhadap permasalahan yang dikemukakan dalam proposal ini. Sebelum menggunakan hipotesis tersebut, ada baiknya dijelaskan arti dan peranan hipotesis dalam suatu penelitian. Untuk menggunakan pengertian hipotesis, penulis menggambil beberapa penjelasan pengertian hipotesis, seperti :
Sutrisno Hadi, Menjelaskan bahwa Hipo berasal dari bahasa Yunani yang berarti di bawah, kurang, lemah. Thesa dalam bahasa Yunani mempunyai arti teori, proporsi yang diajukan sebagai bukti. Jadi hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya. (Sutrisno Hasi, 1976, Hal. 24).
Winarno Surachmad, mengemukakan secara Etimologi, Hipotesis berarti sesuatu yang masih kurang dari Hypo, sebuah kesimpulan adalah pendapat (thesa). Dengan kata lain bahwa, hipotesa adalah sebuah kesimpulan pendapat tetap itu belkum final, masih harus dibuktikan kebenarannya. “Hipotesa adalah suatu jawaban dugaan, anggapan besar kemungkinan untuk menjadi jawaban yang benar” (Winarno Surachmad, 1983, hal. 38).
Sedangkan ahli lain mengatakan bahwa, “Hipotesa tidak lain dari jawaban sementara terhadap masalah penelitia yang kebenaraanya harus diuji secara empiris”. (Moh. Nasir, Ph.D, 1983, hal.18).
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penulis dapat mengemukakan hipotesis alternative (Ha) yang berbunyi : “Ada perbedaan prestasi lompat jauh gaya menggantung dengan gaya jalan di udara pada siswa kelas IX SLTP N 3 Aikmel Lombok Timur Tahun Pelajaran 2007/2008.
E.    Kegunaan Penelitian (Signifikansi)
Signifikan penelitian dalam hal ini artinya kegunaan bagi suatu penelitian (Indun, tahun 1986, hal 11). Setelah diketahui ada tidaknya perbedaan antara gaya menggantung dengan gaya jalan diudara terhadap prestasi lompat jauh cabang atletik dengan suatu harapan akan mempunyai arti dan kegunaan sebagai berikut :
1.    Signifikansi Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya ilmu pengetahuan sebagai bahan perbandingan para ilmuan dalam usaha meningkatkan prestasi lompat jauh.
2.    Signifikansi Praktis
Informasi yang diperoleh melalui penelitian ini diharapkan berguna bagi para guru Olah Raga dan pendidikan serta adik-adik kelas saya dalam membina dan meningkatkan prestasi lompat jauh, khususnya sekarang ini bagi siswa di SLTPN 3 Aikmel Lombok Timur.
F.    Asumsi Yang Digunakan
Asumsi atau anggapan adalah titik tolak logika berfikir dalam penelitian kebenarannya diterima oleh peneliti (M. Subana, 2001, hal 73).
1.    Asumsi Teoritis
Gaya dan gerak yang berbeda dalam suatu lompatan akan memberikan hasil yang bebeda terhadap jauh dekatnya lompatan.
2.    Asumsi Metodik
Penelitian ini dapat terlaksana karena didukung oleh metode penentuan subyek penelitian dengan menggunakan study populasi, metode pengumpulan data, metode test perbuatan  sebagai metode pokok, metode documentar sebagai metode pelengkap, sedangkan analisi data menggunakan analisis statistic T-Test.
3.    Asumsi dari Segi Pelaksana
Penelitian ini terlaksana karena : Lokasi penelitian relative dekat dehingga memungkinkan pelaksanaan penelitian dengan mudah, sumber data ada dan adanya dosen pembimbing serta literatur yang memadai.
G.    Ruang Lingkup penlitian
Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan yang berhubungan dengan ruang lingkup penelitian, yaitu : 1. variabel, 2. Populasi atau aspek Penelitian, 3. Lokasi Penelitian, 4. Waktu penelitian. Untuk lebih jelasnya akan dipaparkan menganai hal-hal tersebut diatas.
1.    Variabel Penelitian
Jenis variabel yang diteliti dalam penelitian ini meliputi :
1.1.    Variabel Bebas (Variabel yang mempengaruhi / penyebab) yaitu perbandingan antara gaya menggantung dengan gaya jalan di udara.
1.2.    Variabel terikat (Variabel yang terpengaruhi/akibat) yaitu lompat jauh.
2.    Populasi atau Aspek Penelitian
Populai yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa Putra Kelas IX SLTPN 3 Aikmel Lombok Timur Tahun Pelajaran 2007/2008.
3.    Lokasi Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dilapangan SLTPN 3 Aikmel Lombok Timur sendiri.
4.    Waktu penelitian
Waktu penelitian dilakukan sekitar bulan Februari 2008 sampai dengan Maret 2008.
H.    Cara Penelitian.
Cara pendekatan dalam suatu penelitian pada umumnya dapat dibagi dua cara, yaitu :
1.    Pendekatan Eksperimen
Pendekatan eksperimen ini mensyaratkan bahwa gejala yang diselidiki ditimbulkan dengan sengaja artinya gejala yang diteliti oleh peneliti dibentuk dalam suasana buatan untuk selanjutnya dapat dilakuka pengamatan secara teliti.
2.    Pendekatan Empiris
Pendekatan empiris ini mensyaratkan bahwa gejala yang diselidiki telah muncul dengan sendirinya tanpa melibatkan peneliti karena itu peneliti tinggal mengamati gejala yang diselidiki.
Jadi pendekatan yang digunakan dalam penlitian ini adalah Pendekatan Eksperimen, karena meskipun tidak dilakukan intervensi tetapi gejala yang diselidiki dimunculkan peneliti dalam bentuk test perbuatan.

Read more

MATERI BOLA VOLLY

  PENGERTIAN OLAHRAGA  VOLI DAN SEJARAH SERTA PERTUARAN PERMAINANNYA


Bola voli adalah olahraga permainan yang dimainkan oleh dua grup berlawanan. Masing-masing grup memiliki enam orang pemain. Terdapat pula variasi permainan bola voli pantai yang masing-masing grup hanya memiliki dua orang pemain. Olahraga Bola Voli dinaungi FIVB (Federation Internationale de Volleyball) sebagai induk organisasi internasional, sedangkan di Indonesia di naungi oleh PBVSI (Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia)

Sejarah Olahraga Voli
Pada awal penemuannya, olahraga permainan bola voli ini diberi nama Mintonette. Olahraga Mintonette ini pertama kali ditemukan oleh seorang Instruktur pendidikan jasmani (Director of Phsycal Education) yang bernama William G. Morgan di YMCA pada tanggal 9 Februari 1895, di Holyoke, Massachusetts (Amerika Serikat). William G. Morgan dilahirkan di Lockport, New York pada tahun 1870, dan meninggal pada tahun 1942.

Setelah bertemu dengan James Naismith (seorang pencipta olahraga bola basket yang lahir pada tanggal 6 November 1861, dan meninggal pada tanggal 28 November 1939), Morgan menciptakan sebuah olahraga baru yang bernama Mintonette. Sama halnya dengan James Naismith, William G. Morgan juga mendedikasikan hidupnya sebagai seorang instruktur pendidikan jasmani. William G. Morgan yang juga merupakan lulusan Springfield College of YMCA , menciptakan permainan Mintonette ini empat tahun setelah diciptakannya olahraga permainan basketball oleh James Naismith. Olahraga permainan Mintonette sebenarnya merupakan sebuah permainan yang diciptakan dengan mengkombinasikan beberapa jenis permainan. Tepatnya, permainan Mintonette diciptakan dengan mengadopsi empat macam karakter olahraga permainan menjadi satu, yaitu bola basket, baseball, tenis, dan yang terakhir adalah bola tangan (handball). Pada awalnya, permainan ini diciptakan khusus bagi anggota YMCA yang sudah tidak berusia muda lagi, sehingga permainan ini-pun dibuat tidak seaktif permainan bola basket.

Perubahan nama Mintonette menjadi volleyball (bola voli) terjadi pada pada tahun 1896, pada demonstrasi pertandingan pertamanya di International YMCA Training School. Pada awal tahun 1896 tersebut, Dr. Luther Halsey Gulick (Director of the Professional Physical Education Training School sekaligus sebagai Executive Director of Department of Physical Education of the International Committee of YMCA) mengundang dan meminta Morgan untuk mendemonstrasikan permainan baru yang telah ia ciptakan di stadion kampus yang baru. Pada sebuah konferensi yang bertempat di kampus YMCA, Springfield tersebut juga dihadiri oleh seluruh instruktur pendidikan jasmani. Dalam kesempatan tersebut, Morgan membawa dua tim yang pada masing-masing tim beranggotakan lima orang.

Dalam kesempatan itu, Morgan juga menjelaskan bahwa permainan tersebut adalah permainan yang dapat dimainkan di dalam maupun di luar ruangan dengan sangat leluasa. Dan menurut penjelasannya pada saat itu, permainan ini dapat juga dimainkan oleh banyak pemain. Tidak ada batasan jumlah pemain yang menjadi standar dalam permainan terERsebut. Sedangkan sasaran dari permainan ini adalah mempertahankan bola agar tetap bergerak melewati net yang tinggi, dari satu wilayah ke wilayah lain (wilayah lawan).


Sejarah Awal Olahraga Voli di Indonesia
Pertandingan bola voli masuk acara resmi dalam PON II 1951 di Jakarta dan POM I di Yogyakarta tahun 1951. setelah tahun 1962 perkembangan bnola voli seperti jamur tumbuh di musim hujan banyaknya klub-klub bola voli di seluruh pelosok tanah air.

Hal ini terbukti pula dengan data-data peserta pertandingan dalam kejuaran nasional. PON dan pesta-pesta olahraga lain, di mana angka menunjukkan peningkatan jumlahnya. Boleh dikatakan sampai saat ini permainan bola voli di Indonesia menduduki tempat ketiga setelah sepak bola dan bulu tangkis.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah perbolavolian Indonesia, PBVSI telah dapat mengirimkan tim bola voli yunior Indonesia ke kejuaraan Dunia di Athena Yunani yang berlangsung dari tanggal 3-12 september 1989. tim bola voli yunior putra Indonesia ini dilatih oleh Yano Hadian dengan dibantu oleh trainer Kanwar, serta pelatih dari Jepang Hideto Nishioka, sedangkan pelatih fisik diserahkan kepada Engkos Kosasih dari bidang kepelatihan PKON (pusat kesehatan olahraga nasional) KANTOR MENPORA. Dalam kejuaraan dunia bola voli putra tersebut, sebagai juaranya adalah :
* Uni Sovyet
* Kuba
* Jepang
* Yunani
* Brazil
* Polandia
* Bulagaria

Sedangkan Indonesia sendiri baru dapat menduduki urutan ke 15.

Dalam periode di bawah pimpinan ketua Umum PBVSI Jendral (Pol) Drs. Mochamad Sanusi, perbolavolian makin meningkat baik dari jumlahnya perkumpulan yang ada maupun dari lancarnya system kompetisi yang berlangsung,; sampai dengan kegiatan yang dilakukan baik di dalam maupun di luar negeri.

Demonstrasi pertandingan yang dibawakan oleh kedua tim, serta penjelasan yang telah disampaikan oleh Morgan-pun telah membawa sebuah perubahan pada Mintonette. Perubahan pertama yang terjadi pada permainan tersebut terjadi pada namanya. Atas saran dari Profesor Alfred T. Halstead yang juga menyaksikan dan memperhatikan demonstrasi serta penjelasan Morgan, nama Mintonette-pun berubah menjadi Volleyball (bola voli). Pemilihan nama Volleyball sebagai pengganti Mintonette-pun tidak dilakukan dengan tanpa pertimbangan.

Nama Volleyball dipilih berdasarkan gerakan-gerakan utama yang terdapat pada permainan tersebut, yaitu gerakan memukul bola sebelum bola tersebut jatuh ke tanah (volley). Pada awalnya, nama Volleyball-pun dieja secara terpisah (dua kata), yaitu “Volley Ball”. Kemudian pada tahun 1952, Komite Administratif USVBA (United States Volleyball Association) memilih untuk mengeja nama tersebut dalam satu kata, yaitu “Volleyball”. USVBA adalah persatuan olahraga bola voli yang terdapat di Amerika Serikat. Asosiasi ini pertama kali didirikan pada tahun 1928, dan pada saat ini USVBA lebih dikenal dengan nama USAV (USA Voleyball). Setelah demonstrasi tersebut, komite YMCA berjanji untuk mempelajari peraturan-peraturan permainan yang telah ditulis dan diserahkan oleh Morgan.

Alat Permainan Olahraga Voli

Lapangan permainan Olahraga Voli
Ukuran lapangan bola voli yang umum adalah 9 meter x 18 meter.Garis batas serang untuk pemain belakang berjarak 3 meter dari garis tengah (sejajar dengan jaring). Garis tepi lapangan adalah 5 cm.


Bola Olahraga Voli
Bola tersebut memiliki keliling lingkaran 65 hingga 67 cm, dengan berat 260 hingga 280 gram. Tekanan dalam dari bola tersebut hendaknya sekitar 0.30 hingga 0.325 kg/cm2 (4.26-4.61 psi, 294.3-318.82 mbar atau hPa).

Net Olahraga Voli
Ukuran tinggi net putra 2,43 meter dan untuk net putri 2,24 meter.

Sistem Pertandingan Olahraga Voli
•    Sistem pertandingan menggunakan sistem setengah kompetisi yang terdiri dari 8 tim dan akan disitribusikan ke dalam 2 (dua) group, masing-masing group terdiri dari 4 (empat) tim.
•    Setiap tim terdiri dari 10 pemain meliputi 6 pemain inti yang bermain di lapangan dan 4 pemain cadangan.
•    Pergantian pemain inti dan cadangan pada saat pertandingan berlangsung tidak dibatasi.
•    Pertandingan tidak akan ditunda apabila salah satu atau lebih dari satu anggota tim sedang bermain untuk cabang olahraga yang lain.
•    Jumlah pemain minimum yang boleh bermain di lapangan adalah 4 orang.
•    Apabila di lapangan terdapat kurang dari 4 orang, maka tim yang bersangkutan akan dianggap kalah.
•    Setiap pertandingan berlangsung 3 babak (best of three), kecuali pada 2 babak sudah di pastikan pemenangnya maka babak ke tiga tidak perlu dilaksanakan.
•    Sistem hitungan yang digunakan adalah 25 rally point. Bila poin peserta seri (24-24) maka pertandingan akan ditambah 2 poin. Peserta yg pertama kali unggul dengan selisih 2 poin akan memenangi pertandingan.
•    Kemenangan dalam pertandingan penyisihan mendapat nilai 1. Apabila ada dua tim atau lebih mendapat nilai sama, maka penentuan juara group dan runner-up akan dilihat dari kualitas angka pada tiap-tiap set yang dimainkan.

Kesalahan meliputi:
•    Pemain menyentuh net atau melewati garis batas tengah lapangan lawan.
•    Tidak boleh melempar ataupun menangkap bola. Bola voli harus di pantulkan tanpa mengenai dasar lapangan.
•    Bola yang dipantulkan keluar dari lapangan belum dihitung sebagai out sebelum menyentuh permukaan lapangan.
•    Pada saat servis bola yang melewati lapangan dihitung sebagai poin bagi lawan, begitu juga sebaliknya penerima servis lawan yang membuat bola keluar dihitung sebagai poin bagi lawan.
•    Seluruh pemain harus berada di dalam lapangan pada saat serve dilakukan.
•    Pemain melakukan spike di atas lapangan lawan.
•    Seluruh bagian tubuh legal untuk memantulkan bola kecuali dengan cara menendang.
•    Para pemain dan lawan mengenai net 2 kali pada saat memainkan bola dihitung sebagai double faults.
•    Setiap team diwajibkan bertukar sisi lapangan pada saat setiap babak berakhir. Dan apabila dilakukan babak penetuan (set ke 3) maka tim yang memiliki nilai terendah boleh meminta bertukar lapangan sesaat setelah tim lawan mencapai angka 13.
•    Time out dilakukan hanya 1 kali dalam setiap babak dan berlangsung hanya 1 menit.
•    Diluar dari aturan yang tertera disini, peraturan permainan mengikuti peraturan internasional.

o    MACAM-MACAM TEKNIK DASAR BOLA VOLI
•    Mengingat olahraga bola voli adalah permainan beregu, maka pola kerjasama antar pemain mutlak diperlukan untuk membentuk team yang kompak dengan demikian, penguasaan teknik-teknik dasar dalam olahraga bola voli secara perorangan sangatlah penting untuk dikuasai. Seperti dikatakan oleh Sarumpaet (1991:133), bahwa:“ penguasaan teknik dasar bola voli merupakan unsur yang menentukan kalah dan menangnya suatu regu dalam pertandingan.
•    Oleh karena, itu teknik dasar permainan harus benar-benar dikuasai lebih dahulu agar dapat mengembangkan untuk pertandingan lancar dan teratur.” Pengertian “teknik dasar” menurut Yunus (1992: 68) adalah “cara melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu secara efektif dan efisien sesuai dengan peraturan yang berlaku untuk mencapai hasil yang optimal”. Selanjutnya dikatakan pula mengenai macam teknik dasar, yaitu : servis, passing, smash dan block.
•    A.SERVIS
•    Servis adalah tindakan memukul bola oleh seorang pemain belakang yang dilakukan dari daerah servis, langsung ke lapangan lawan. Servis merupakan aksi untuk memasukkan bola ke dalam permainan. Keberhasilan suatu servis tergantung pada kecepatan bola, jalan dan putaran bola serta penempatan bola ke tempat kosong, kepada pemain garis belakang kepada pemain yang melakukan perpindahan tempat. Service ada beberapa macam  antara lain:
•    1. Service atas. adalah service dengan awalan melemparkan bola ke atas seperlunya. Kemudian Server memukul bola dengan ayunan tangan dari atas.
•    2. Service bawah. Adalah service dengan awalan bola berada di tangan yang tidak memukul bola. tangan yang memukul bola bersiap dari belakang badan untuk memukul bola dengan ayunan tangan dari bawah.
•    3.Service mengapung. Adalah service atas dengan awalan dan cara memukulyang hampir sama. awalan service mengapung adalah melemparkan bola ke atas namun tidak terlalu tinggi ( tidak terlalu tinggi dari kepala ). Tangan yang akan memukul bola bersiap di dekat bola dengan ayunan yang sangat pendek.
•    B.PASING
•    Salah satu tehnik dasar dan vital yang lain, yang juga wajib dikuasai oleh setiap pemain bola voli adalah tehnik pasing. Tanpa adanya penguasaan tehnik pasing yang baik, maka sebuah tim tidak akan mampu menghadapi pertandingan dengan baik. Karena, pasing adalah langkah awal yang akan menentukan kemampuan sebuah tim untuk bertahan dan melakukan penyerangan. Dengan adanya penguasaan tehnik pasing yang baik, maka seorang setter akan lebih mudah dalam menyesuaikan arah dan tinggi bola yang akan diset. Dengan demikian, sang attacker-pun akan dapat melakukan spike secara maksimal.
•    Dengan kata lain, pasing juga biasa dikenal dengan sebutan “reception”, yaitu sebuah usaha tim dalam rangka menerima, menahan, dan mengendalikan servis atau segala bentuk penyerangan yang dilakukan oleh tim lawan. Pasing yang baik, bukanlah pasing yang hanya mampu mencegah bola agar tidak jatuh atau menyentuh area timnya, tetapi juga harus mampu mencapai posisi setter dengan arah yang tepat, serta dengan gerakan dan kecepatan yang stabil. Dengan demikian, sang setter dan attacker akan mampu menciptakan berbagai variasi serangan dengan mudah.
•  
•  
•    Teknik pasing ini dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
•    A.Passing bawah
•    Passing bawah adalah Passing bawah adalah upaya seorang pemain dengan menggunakan teknik tertentu untuk mengoperkan bola menggunakan lengan sisi bagian dalam untuk dimainkanya kepada teman seregu untuk dimainkan dilapangan sendiri.
•    1.. Cara-cara melakukan pasing bawah
•    • Pemain melakukan sikap siap.
•    • Kedua tangan rapat dan dijulurkan lurus kedepan, kedua lengan membuat sudut 45º dengan badan.
•    • Sikap tubuh semakin merendah dengan menurunkan sudut lutut  dari 135º menjadi 45º.
•    • Tungkai mulai dijulurkan keatas agak kedepan, bola mengenai lengan bawah yang terjulur lurus. Tungkai dijulurkan sampai berjingkat dan tangan tidak boleh melewati bahu.
•    • Kembali kepada sikap siap.
o    2. Jenis-jenis Pasing Bawah
•    • pass Bawah dua Tangan
•    •Pass Bawah Satu Tangan
•    • Pass Bawah Bergulir Kesamping
•    • Pass Bawah Setengah Bergulir Kebelakang
•    •Pass Bawah Meluncur Kedepan
o    3. Keguanaan Teknik Passing Bawah
•    •Untuk penerimaan bola servis
•    •Untuk penerimaan bola dari lawan yang berupa serangan / smash
•    •Untuk pengambilan bola setelah terjadi blok atau bola dari pantulan net
•    • Untuk menyelamatkan bola yang kadang-kadang terpental jauh dari lapangan permainan
•    • Untuk pengambilan bola yang rendah dan mendadak datangnya
•    B Pasing  atas
•    Pasing atas adalah tehnik pasing yang dilakukan dengan menggunakan ujung jemari tangan, seperti ketika melakukan set. Tehnik ini dilakukan pada posisi di atas kepala.
o    1. Cara melakukan pasing atas:
•    • Pemain melakukan sikap siap.
•    • Badan dijulurkan keatas dengan meluruskan tungkai, bersamaan dengan menjulurkan kedua tangan keatas, sikap jari seperti hendak merangkum bola.
•    •Tungkai ditekuk kembali sampai lutut membuat sudut 135º, posisi lengan ditekuk didepan muka diatas kening dan bola disentuh oleh ujung jari² tangan.
•    •Tungkai dijulurkan kembali sampai berjingkat dan  bola dilambungkan kedepan atas dengan jari dan bantuan lengan yang digerakkan sampai lurus keatas.
•    •Kembali kepada sikap siap
o    2.Jenis-jenis pasing atas
•    • Pass Atas Normal
•    •Pass Atas Setengah Bergulir Kebelakang
•    •Pass Atas Bergulir Kesamping
•    •Pass Atas Meloncat
o    3.Kegunaan pasing atas
•    Pasing atas selain berguna untuk pasing tetapi juga berguna untuk mengumpan untuk membuat serangan yang di umpankan kepada Smasher.
•  
•    C. SMASH (PENYERANGAN)
a. Proses melakukan smash dapat dibagi menjadi beberapa macam antara lain
1.Awalan
Berdiri dengan salah satu kaki dibelakang sesuai dengan kebiasaan individu (tergantung smasher normal atau smasher kidal). Langkahkan kaki satu langkah kedepan (pemain yang baik, dapat mengambil ancang² sebanyak 2 sampai 4 langkah), kedua lengan mulai bergerak kebelakang, berat badan berangsur² merendah untuk membantu tolakan.
2.Tolakan
•    Langkahkan kaki selanjutnya, hingga kedua telapak kaki hampir sejajar dan salah satu kaki agak kedepan sedikit untuk mengerem gerak kedepan dan sebagai persiapan meloncat kearah vertical. Ayunkan kedua lengan kebelakang atas sebatas kemampuan, kaki ditekuk sehingga lutut membuat sudut ±110º, badan siap untuk meloncat dengan berat badan lebih banyak bertumpu pada kaki yang didepan.
•    3.Meloncat
•    Mulailah meloncat dengan tumit & jari kaki menghentak lantai dan mengayunkan kedua lengan kedepan atas saat kedua kaki mendorong naik keatas. Telapak kaki, pergelangan tangan, pinggul dan batang tubuh digerakkan serasi merupakan rangkaian gerak yang sempurna. Gerakan eksplosif dan loncatan vertikal.
•    4. Memukul Bola
•    Jarak bola didepan atas sejangkauan lengan pemukul, segera lecutkan lengan kebelakang kepala dan dengan cepat lecutkan kedepan sejangkauan lengan terpanjang dan tertinggi terhadap bola. Pukul bola secepat dan setinggi mungkin, perkenaan bola dengan telapak tangan tepat diatas tengah bola bagian atas. Pergelangan tangan aktif menghentak kedepan dengan telapak tangan & jari menutup bola.
•    Setelah perkenaan bola lengan pemukul membuat gerakan lanjutan kearah garis tengah badan dengan diikuti gerak tubuh membungkuk. Gerak lecutan lengan, telapak tangan, badan, tangan yang tidak memukul dan kaki harus harmonis dan eksplosif untuk menjaga keseimbangan saat berada diudara. Pukulan yang benar akan menghasilkan bola keras & cepat turun kelantai
•    5. Mendarat
•    Mendarat dengan kedua kaki mengeper. Lutut lentur saat mendarat untuk meredam perkenaan kaki dengan lantai, mendarat dengan jari² kaki (telapak kaki bagian depan) dan sikap badan condong kedepan. Usahakan tempat mendarat kedua kaki hampir sama dengan tempat saat meloncat.
•    b. Jenis-jenis Smash.
•    1. Open
•    Pemukul melakukan gerak awalan setelah bola lepas dari tangan pengumpan, bola dipukul dipuncak loncatan dan jangkauan lengan yang tertinggi.
•    2. Semi
•    Setelah bola lepas dipasing kearah pengumpan, pemukul harus mulai bergerak perlahan kedepan dengan langkah tetap menuju kearah pengumpan. Begitu pengumpan menyajikan bola dengan ketinggian 1m  ditepi atas net maka secepatnya pemukul meloncat keatas dan memukul bola. Disini kecepatan gerak harus lebih cepat dari pada smash dengan bola Open
•    3. Quick
•    Begitu melihat bola pasing ke pengumpan, maka pemukul melakukan awalan secepat mungkin, dengan langkah yang panjang. Timing meloncat sebelum bola diumpan dengan jarak satu jangkauan lengan pemukul dengan bola yang akan diumpan. Pemukul melayang dengan tangan siap memukul, pengumpan menyajikan bola tepat didepan tangan pemukul. Lakukan pukulan dengan secepat²nya, gerakan pergelangan tangan yang cepat sangat baik hasilnya. Loncatan smasher vertikal, jagalah keseimbangan badan pada saat melayang.
•    4 Straight
•    Smasher sebelum melakukan gerakan awalan, terlebih dahulu bergerak kearah luar lapangan mendekati tiang net, smasher melakukan awalan bergerak arah paralel  dengan jaring. Begitu bola sampai dibatas tepi jaring dengan ketinggian optimal bola, segeralah melompat dan langsung memukul secepatnya. Proses menjalankan teknik ini lebih cepat dibandingkan smash dengan bola semi.
•    5. Drive
•    Smash ini biasanya digunakan oleh pemain untuk bola jauh dari net, saat meloncat smasher agak dekat dibawah bola, berbeda dengan saat meloncat pada smash normal. Bola yang akan di smash terletak diatas kanan bahu lengan pemukul. Gerak lecutan tangan dari depan atas badan diputarkan kearah yang berlawanan dengan arah jarum jam, telapak tangan membentuk cekungan seperti sendok. Cambukan keras, perkenaan bola dibagian belakang kearah bagian muka dengan telapak tangan, aktifkan gerakan pergelangan tangan . Gerakan cambukan harus dibantu oleh otot² perut, samping dan bahu. Akibat cambukan kurve jalan bola akan panjang dan putaran bola menjauhi net, bola bergerak dengan cepat dan tajam.
•    6 Dummy
•    Pemain melakukan gerakan sama dengan pada waktu hendak melakukan smash, tetapi pada waktu kontak dengan bola, bola tidak dipukul melainkan disentuh saja dengan jari tangan. Lengan pemukul tetap bergerak dan dengan gerakan jari pemukul mengarahkan bola ketempat yang tidak terjaga ditempat lawan. Bola dapat dilambungkan pendek atau panjang tergantung pada situasi.
•    7. Bola 3 meter
•    Smash ini adalah serangan yang dilakukan dari belakang garis serang, pemukul yang berfungsi sebagai pemain belakang pada saat tolakan tidak boleh menginjak atau melewati garis serang, tetapi pada saat mendarat boleh saja jatuh didalam garis serang.
•    8. Kijang
•    Biasanya umpan bola back, pemukul melakukan langkah panjang dan naik dengan tolakan loncatan menggunakan satu kaki, pemukul tangan kanan menolak dengan kaki kiri.
•    9. Double Step
•    Smash dengan menggunakan gerak tipu, disini pemukul melakukan dua kali gerakan untuk melakukan tolakan meloncat. Tolakan pertama hanya berupa tipuan untuk mengecoh block, baru pada tolakan kedua pemukul meloncat dan melakukan serangan.
•    10.Stepl
•    Smash ini hampir sama dengan smash normal, tetapi gerakan awalan berbeda. Pemukul melangkah kedepan, kemudian melakukan langkah kesamping sebelum tolakan, baru kemudian melompat naik untuk melakukan serangan.
•    D.BLOCK
•    Block adalah pertahana di atas net. Untuk melakukan block yang baik, pemain harus dapat memperkirakan jatuhnya bola, atau dapat meramalkan kemana kira-kira lawan akan memukul bola, berikut cara-cara melakukan block.
•    a. Pemain berdiri dengan kedua kaki sejajar dan kaki ditekuk sedikit,
•    b. Kedua tangan didepan dada,
•    c. Telapak kedua tangan menghadap net dan jari-jari dikembangkan lebar-lebar.
•    d. Sebagai awalan lutut ditekuk lebih dalam,
•    e. Posisi badan sedikit condong kedepan kemudian diteruskan dengan tolakan keatas dengan kedua kaki secara eksplosif serta mengayunkan kedua lengan lurus keatas secara bersamaan dan jari membuka agar kedua tangan merupakan suatu bidang yang luas.
•    f. Pada saat melayang diudara dan ketika bola dipukul oleh lawan, segeralah tangan dihadapkan kearah datangnya bola dan berusaha menguasai bola itu.
•    g. Pada saat perkenaan tangan dengan bola, pergelangan tangan digerakkan secara aktif agar tangan dapat menekan bola dari arah atas depan kebawah secara tepat.
•    h Jari-jari  kedua tangan pada saat perkenaan ditegangkan agar tangan dan jari cukup kuat untuk menerima tekanan bola yang keras.
•    i. Saat perkenaan yang baik adalah saat sebelum bola dipukul, tangan blocker sudah benar-benar dapat mengurung bola tersebut.
•    jSetelah kontak dengan bola pemain mendarat kembali dengan tumpuan kedua kaki  dan lentur.
•    E. DIG
•    Untuk menyelamatkan bola agar tidak jatuh setelah di-spike oleh tim lawan, maka biasanya seorang pemain akan melakukan tehnik Dig. Tehnik ini biasanya digunakan dalam keadaan darurat. Ketika posisi jatunya bola sudah berada dekat dengan lantai dan tidak dapat diselamatkan lagi dengan menggunakan tehnik pass, maka tehnik Dig inilah yang akhirnya digunakan.
•    Pada dasarnya, tehnik Dig ini sama dengan tehnik pass atau bump. Istilah Overhand dig digunakan ketika seorang pemain melakukan Dig dengan menggunakan ujung jemarinya. Sementara Bump dig adalah istilah yang digunakan untuk Dig yang dilakukan dengan menggunakan kedua lengan yang digabungkan. Dalam tehnik Dig, seorang pemain biasanya juga menampilkan gerakan meluncur (dive), yaitu melemparkan tubuhnya ke arah depan untuk menyelamatkan bola, yang kemudian mendarat dengan menggunakan dadanya.
•    Seorang pemain biasanya akan memperjuangkan bola dengan sekuat tenaga dan dengan segala cara yang tidak melanggar peraturan permainan yang telah ditetapkan. Sekali waktu, seorang pemain juga terpaksa harus menjatuhkan badannya dengan cepat hanya untuk menyelamatkan bola agar tidak terjatuh. Untuk mencegah luka maupun cidera pada tubuh ketika menjatuhkan tubuhnya, biasanya seorang pemain juga melakukan tehnik berputar (rolling) ketika jatuh.
•    Selain itu, terkadang seorang pemain juga melakukan tehnik yang disebut dengan “pancake” untuk menyelamatkan bola yang hampir menyentuh lantai. Pada tehnik ini, seorang pemain akan meluncur dan mendorongkan tangannya ke arah depan.



Read more

MATERI TOLAK PELURU

                                                               TOLAK PELURU
Tolak peluru adalah salah satu cabang olahraga atletik.Atlet tolak peluru melemparkan bola besi yang berat sejauh mungkin. [Penolak peluru, Universitas Nebraska, 1942] Teknik Dasar Tolak Peluru Terdapat beberapa teknik dasar dalam tolak peluru, diantaranya : Teknik Memegang Peluru Ada 3 teknik memegang peluru : Jari-jari direnggangkan sementara jari kelingking agak ditekuk dan berada di samping peluru, sedang ibu jari dalam sikap sewajarnya. Untuk orang yang berjari kuat dan panjang.Jari-jari agak rapat, ibu jari di samping, jari kelingking berada di samping belakang peluru.Biasa dipakai oleh para juara. Seperti cara di atas, hanya saja sikap jari-jari lebih direnggangkan lagi, sedangkan letak jari kelingking berada di belakang peluru. Cocok untuk orang yang tangannya pendek dan jari-jarinya kecil. Teknik Meletakkan Peluru Pada Bahu Peluru dipegang dengan salah satu cara di atas, letakkan peluru pada bahu dan menempel pada leher bagian samping. Siku yang memegang peluru agak dibuka ke samping dan tangan satunya rileks di samping kiri badan. Teknik Menolak Peluru Pengenalan peluru Peluru dipegang dengan satu tangan dipindahkan ke tangan yang lain Peluru dipegang dengan tangan kanan dan diletakkan di bahu dengan cara yang benar Peluru dipegang dengan dua tangan dengan sikap berdiri akak membungkuk, kemudian kedua tangan yang memegang peluru diayunkan ke arah belakang dan peluru digelindingkan ke depan Sikap awal akan menolak peluru Mengatur posisi kaki, kaki kanan ditempatkan di muka batas belakang lingkaran, kaki kiri diletakkan di samping kiri selebar badan segaris dengan arah lemparan. Bersamaan dengan ayunan kaki kiri, kaki kanan menolak ke arah lemparan dan mendarat di tengah lingkaran.
Sewaktu kaki kaki kanan mendarat, badan dalam keadaan makin condong ke samping kanan.Bahu kanan lebih rendah dari bahu kiri.Lengan kiri masih pada sikap semula.Cara menolakkan peluru Dari sikap penolakan peluru, tanpa berhenti harus segera diikuti dengan gerakan menolak peluru.Jalannya dorongan atau tolakan peda peluru harus lurus satu garis.Sudut lemparan kurang dari 40o. Sikap akhir setelah menolak peluru Sesudah menolak peluru, membuat gerak lompatan untuk menukar kaki kanan ke depan. Bersamaan dengan mendaratnya kaki kanan, kaki kiri di tarik ke belakang demikian pula dengan lengan kiri untuk memelihara keseimbangan.
PERALATAN Alat yang digunakan :
 - Rol Meter
- Bendera Kecil
- Kapur / Tali Rafia
- Peluru
a. Untuk senior putra = 7.257 kg
b. Untuk senior putri = 4 kg 
c. Untuk yunior putra = 5 kg
d. Untuk yunior putri = 3 kg
- Obrient : gaya membelakangi arah tolakan
- Ortodox : gaya menyamping
 Lapangan Tolak Peluru Konstruksi :
o Lingkaran tolak peluru harus dibuat dari besi, baja ata bahan lain yang cocok yang dilengkungkan, bagian atasnya harus rata dengan permukaan tanah luarnya. Bagian dalam lingkaran tolak dibuat dari emen , aspal atau bahan lain yang padat tetapi tidak licin. Permukaan dalam lingkaran tolak harus datar anatara 20 mm sampai 6 mm lebih rendah dari bibir atas lingkaran besi.
o Garis lebar 5 cm harus dibuat di atas lingkaran besi menjulur sepanjang 0.75 m pada kanan kiri lingkaran garis ini dibuat dari cat atau kayu.
o Diameter bagian dalam lingkaran tolak adalah 2,135 m. Tebal besi lingkaran tolak minimum 6 mm dan harus di cat putih.
 o Balok penahan dibuat dari kayu atau bahan lain yang sesuai dalam sebuah busur/lengkungan sehingga tepi dalam berhimpit dengan tepi dalam lingkaran tolak, sehingga lebih kokoh.
o Lebar balok 11,2-30 cm, panjangnya 1,21-1,23 m di dalam, tebal 9,8-10,2 cm. Gambar Lapangan Tolak Peluru

Tehnik tolak peluru
Teknik Permainan Olah Raga Tolak Peluru Cabang Atletic | Sejarah | Peraturan
Tolak peluru adalah salah satu cabang olahraga atletik yang termasuk dalam nomor lempar.Atlet tolak peluru melemparkan bola besi yang berat sejauh mungkin yang disebut peluru.Peluru ini merupakan peralatan utama dalam olahraga ini.Bentuknya bulat seperti bola dan terbuat dari besi. Berat peluru disesuaikan dengan penggunanya, antara lain:
• Untuk senior putra = 7,257 kg
• Untuk senior putri = 4 kg
• Untuk junior putra = 5 kg
• Untuk junior putri = 3 kg

Beragam kegiatan lempar beban telah ada lebih dari 2000 tahun lalu di Kepulauan Britania. Pada awalnya, kegiatan ini diselenggarakan dengan menggunakan bola batu.Sementara kegiatan pertama yang menggambarkan tolak peluru modern, tampaknya terjadi di zaman pertengahan ketika serdadu menyelenggarakan pertandingan dengan melempar beban yang disebut canon balls atau peluru meriam.
Pertandingan tolak peluru tercatat pada awal abad ke-19 di Skotlandia dan merupakan bagian dari kejuaraan amatir di Inggris tahun 1866.Tolak peluru merupakan event olimpiade modern asli yang diadakan di Athena, Yunani tahun 1896.
A. Teknik Dasar Tolak Peluru
Terdapat beberapa teknik dasar dalam tolak peluru, di antaranya:
a. Teknik Memegang Peluru
Ada 3 teknik memegang peluru: jari-jari direnggangkan sementara jari kelingking agak ditekuk dan berada di samping peluru, sedang ibu jari dalam sikap sewajarnya. Untuk orang yang berjari kuat dan panjang, jari-jari agak rapat, ibu jari di samping, jari kelingking berada di samping belakang peluru.Biasa dipakai oleh para juara. Seperti cara di atas, hanya saja sikap jari-jari lebih direnggangkan lagi, sedangkan letak jari kelingking berada di belakang peluru. Cocok untuk orang yang tangannya pendek dan jari-jarinya kecil.
b. Teknik Meletakkan Peluru Pada Bahu
Peluru dipegang dengan salah satu cara di atas, letakkan peluru pada bahu dan menempel pada leher bagian samping. Siku yang memegang peluru agak dibuka ke samping dan tangan satunya rileks di samping kiri badan.
c. Teknik Menolak Peluru
• Cara memegang peluru
Bola peluru diletakkan pada ujung telapak tangan, akar jari-jari tangan. Jari telunjuk, jari tengan dan kelingking merupakan titik-titik utama untuk membantu lemparan.Jari kelingking dan ibu jari menjaga agar peluru tidak tergelincir.Peluru harus berada dekat leher hingga waktu penolakan.
• Persiapan menolak
Kondisi tangan kanan memegang peluru yang ditempelkan pada bahu. Siku yang memegang peluru agak dibuka ke samping, sedangkan tangan kiri diupayakan rileks di samping kiri badan.Tangan kiri berfungsi untuk menjaga keseimbangan.
Ketika akan menolak atau melempar, siku harus setinggi mungkin dan mengikuti terus di belakang peluru. Pada saat peluru sudah dilepaskan, jangan sekali-kali membiarkan lengan tertuju di bawah peluru atau terburu-buru ditarik.Kedua kaki diusahakan sejajar, menghadap kea rah sasaran lemparan dan jarak antara kaki lebih lebar sedikit dari lebar pinggul.
• Tolakan berdiri
Posisi saat menolak harus ditekankan pada kaki karena kaki bagian yang terkuat dari tubuh. Kaki kanan diletakkan di muka batas belakang lingkaran.Sementara kaki kiri berada di samping kiri selebar badan dan segaris dengan arah lemparan. Pada saat seluruh badan menghadap ke arah tolakan, dengan cepat peluru itu ditolakkan sekuat-kuatnya ke depan (arah tolakan). Jalannya tolakan harus lurus dan sudut lemparnnya maksimal 40°.
B. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Teknik Tolak Peluru
Ketentuan diskualifikasi/kegagalan peserta tolak peluru: 1) Menyentuh balok batas sebelah atas, 2) Menyentuh tanah di luar lingkaran, 3) Keluar masuk lingkaran dari muka garis tengah, 4) Dipanggil selama 3 menit belum menolak, 5) Peluru ditaruh di belakang kepala, 6) Peluru jatuh di luar sektor lingkaran, 7) Menginjak garis lingkaran lapangan, 8) Keluar lewat depan garis lingkaran, 9) Keluar lingkaran tidak dengan berjalan tenang, 10) Peserta gagal melempar sudah 3 kali lemparan.
Beberapa hal yang disarankan: 1) Bawalah tungkai kiri merendah, 2) Dapatkan keseimbangan gerak dari kedua tungkai dengan tungkai kiri memimpin di belakang, 3) Menjaga agar bagian atas badan tetap rileks ketika bagian bawah bergerak, 4) Hasilkan rangkaian gerak yang cepat dan jauh pada tungkai kanan, 5) Putar kaki kanan ke arah dalam sewaktu melakukan luncuran, 6) Pertahankan pinggul kiri dan bahu menghadap ke belakang selama mungkin, 7) Bawalah tangan kiri dalam sebuah posisi mendekati badan, 8) Tahanlah sekuat-kuatnya dengan tungkai kiri.
Beberapa hal yang harus dihindari: 1) Tidak memiliki keseimbangan dalam sikap permulaan, 2) Melakukan lompatan ketika meluncur dengan kaki kanan, 3) Mengangkat badan tinggi ketika melakukan luncuran, 4) Tidak cukup jauh menarik kaki kanan di bawah badan, 5) Mendarat dengan kaki kanan menghadap ke belakang, 5) Menggerakkan tungkai kiri terlalu banyak ke samping, 6) Terlalu awal membuka badan, 7) Mendarat dengan badan menghadap ke samping atau ke depan.
C. Peralatan
Alat yang digunakan: 1) Rol Meter, 2) Bendera Kecil, 3) Kapur/tali raffia, 4) Peluru, 5) Obrient (gaya membelakangi arah tolakan), 6) Ortodox (gaya menyamping).
D. Lapangan Tolak Peluru

Lapangan tolak peluru berbentuk lingkaran berdiameter 2,135 m. Lingkaran tolak peluru harus dibuat dari besi, baja atau bahan lain yang cocok dilengkungkan, bagian atasnya harus rata dengan permukaan tanah luarnya. Bagian dalam lingkaran tolak dibuat dari semen, aspal atau bahan lain yang padat tetapi tidak licin. Permukaan dalam lingkaran tolak harus datar antara 20 mm-6 mm lebih rendah dari bibir atas lingkaran besi. Garis lebar 5 cm harus dibuat di atas lingkaran besi menjulur sepanjang 0,75 m pada kanan kiri lingkaran garis ini dibuat dari cat atau kayu. Diameter bagian dalam lingkaran tolak adalah 2,135 m. Tebal besi lingkaran tolak minimum 6 mm dan harus dicat putih. Balok penahan dibuat dari kayu atau bahan lain yang sesuai dalam sebuah busur/lengkungan sehingga tepi dalam berhimpit dengan tepi dalam lingkaran tolak, sehingga lebih kokoh. Lebar balok 11,2-30 cm, panjangnya 1,21-1,23 m di dalam, tebal 9,8-10,2 cm.
Read more

MATERI BOLA FUTSAL

                                                                 BOLA FUTSAL

SEJARAH, TEHNIK DASAR, UKURAN lAPANGAN dan PERATURAN FUTSAL
Futsal pertama kali dimainkan di Montevideo, Uruguay pada tahun 1930, oleh Juan Carlos Ceriani.
Pertandingan internasional pertama diadakan pada tahun 1965, Paraguay menjuarai Piala Amerika Selatan pertama.Enam perebutan Piala Amerika Selatan berikutnya diselenggarakan hingga tahun 1979, dan semua gelaran juaranya Brasil. Brasil meneruskan dominasinya dengan meraih Piala Pan Amerika pertama tahun 1980 dan memenangkannya lagi pada perebutan berikutnya tahun pd 1984. Kejuaraan Dunia Futsal pertama diadakan atas bantuan FIFUSA (sebelum anggota-anggotanya bergabung dengan FIFA pada tahun 1989) di Sao Paulo, Brasil, tahun 1982, berakhir dengan Brasil di posisi pertama.Brasil mengulangi kemenangannya di Kejuaraan Dunia kedua tahun 1985 di Spanyol, tetapi menderita kekalahan dari Paraguay dalam Kejuaraan Dunia ketiga tahun 1988 di Australia.Pertandingan futsal internasional pertama diadakan di AS pada Desember 1985, di Universitas Negeri Sonoma di Rohnert Park, California.

Nah itu adalah sejarah futsalnya, sekarang bagian teknik dasar dalam bermain futsal.


Teknik Dasar Permainan Bola Futsal

Futsal pada saat ini lebih mengandalkan skill individu dan sangat sedikit strategi dan taktik, bahkan teknik dasar bermain futsal juga jarang dilakukan. Modern Futsal adalah permainan futsal dimana para pemain dilatih bermain dengan sirkulasi bola yang sangat cepat,baik menyerang maupun bertahan dan juga sirkulasi pemain tanpa bola ataupun timing yang tepat, diperlukan kerja sama antar pemain lewat operan/passing yang akurat,bukan mencoba untuk melewati lawan. Karena pemain selalu berangkat dengan falsafah 100% ball possesion. Akan tetapi melalui timing dan positioning yang tepat kita akan merebut bola dari lawan.
Beberapa teknik dasar yang harus dikuasai para pemain futsal adalah sebagai berikut:
1.    Teknik Dasar Mengumpan (Passing)
2.    Teknik Dasar Menahan Bola (Control)
3.    Teknik Dasar Menggiring Bola (Dribbling)
4.    Teknik Dasar Menumpan bola atas (Chipping)
5.    Teknik Dasar Menembak/Mencetak Gol (Shooting/Finishing)

Gambar di samping mengenai cara passing Drill dalam Futsal

Gambar di samping adalah teknik Futsal Passing Ball Control and Movement

Nah itu beberapa teknik dasar dalam bermain Futsal, sekaligus saya sertakan beberapa gambarnya ya, silakan dipelajari :
Untuk selanjutnya mari kita lihat ukuran lapangan Futsal

Dan terakhir mari kita lihat peraturan olahraga Futsal


Peraturan Olahraga Futsal
Luas Lapangan Futsal
•    Ukuran: panjang 25-42 m x lebar 15-25 m
•    Garis batas: garis selebar 8 cm, yakni garis sentuh di sisi, garis gawang di ujung-ujung, dan garis melintang tengah lapangan; 3 m lingkaran tengah; tak ada tembok penghalang atau papan
•    Daerah penalti: busur berukuran 6 m dari setiap pos
•    Garis penalti: 6 m dari titik tengah garis gawang
•    Garis penalti kedua: 12 m dari titik tengah garis gawang
•    Zona pergantian: daerah 6 m (3 m pada setiap sisi garis tengah lapangan) pada sisi tribun dari pelemparan
•    Gawang: tinggi 2 m x lebar 3 m
•    Permukaan daerah pelemparan: halus, rata, dan tak abrasive
Spesifikasi Bola Futsal


•    Ukuran: 4
•    Keliling: 62-64 cm
•    Berat: 390-430 gram
•    Lambungan: 55-65 cm pada pantulan pertama
•    Bahan: kulit atau bahan yang cocok lainnya (yaitu bahan tak berbahaya)
Jumlah Pemain Futsal Per Tim
•    Jumlah pemain maksimal untuk memulai pertandingan: 5, salah satunya penjaga gawang
•    Jumlah pemain minimal untuk mengakhiri pertandingan: 2 (tidak termasuk cedera)
•    Jumlah pemain cadangan maksimal: 7
•    Jumlah wasit: 2
•    Jumlah hakim garis: 0
•    Batas jumlah pergantian pemain: tak terbatas
•    Metode pergantian: “pergantian melayang” (semua pemain kecuali penjaga gawang boleh memasuki dan meninggalkan lapangan kapan saja; pergantian penjaga gawang hanya dapat dilakukan jika bola tak sedang dimainkan dan dengan persetujuan wasit)
•    Dan wasit pun tidak boleh menginjak arena lapangan , hanya boleh di luar garis lapangan saja , terkecuali jika ada pelanggaran-pelanggaran yang harus memasuki lapangan

Perlengkapan Pemain Olahraga Futsal


•    Kaos bernomor
•    Celana pendek
•    Kaos kaki
•    Pelindung lutut
•    Alas kaki bersolkan karet
•    Lap Handuk
Lama Permainan Olahraga Futsal
•    Lama normal: 2×20 menit
•    Lama istiharat: 10 menit
•    Lama perpanjangan waktu: 2×10 menit (bila hasil masih imbang setelah 2×20 menit waktu normal)
•    Ada adu penalti (maksimal 3 gol) jika jumlah gol kedua tim seri saat perpanjangan waktu selesai
•    Time-out: 1 per tim per babak; tak ada dalam waktu tambahan
•    Waktu pergantian babak: maksimal 10 menit



Read more

MATERI BOLA BASKET

                                                                   BOLA BASKET

Bola basket adalah olahraga bola berkelompok yang terdiri atas dua tim beranggotakan masing-masing lima orang yang saling bertanding mencetak poin dengan memasukkan bola ke dalam keranjang lawan. Bola basket sangat cocok untuk ditonton karena biasa dimainkan di ruang olahraga tertutup dan hanya memerlukan lapangan yang relatif kecil. Selain itu, permainan bola basket juga lebih kompetitif karena tempo permainan cenderung lebih cepat jika dibandingkan dengan olahraga bola yang lain, seperti voli dan sepak bola. Ada 3 posisi utama dalam bermain basket, yaitu : 1) Forward, pemain yang tugas utamanya adalah mencetak poin dengan memasukkan bola ke keranjang lawan, 2) Defense, pemain yang tugas utamanya adalah menjaga pemain lawan agar pemain lawan kesulitan memasukkan bola, dan 3) Playmaker, pemain yang menjadi tokoh kunci permainan dengan mengatur alur bola dan strategi yang dimainkan oleh rekan-rekan setimnya.
Bola basket adalah salah satu olahraga yang paling digemari oleh penduduk Amerika Serikat dan penduduk di belahan bumi lainnya, antara lain di Amerika Selatan, EropaSelatan, Lithuania, dan juga di Indonesia. Banyak kompetisi bola basket yang diselenggarakan setiap tahun, seperti British Basketball League (BBL) di Inggris, National Basketball Association (NBA) di Amerika, dan National Basketball League (NBL) di Indonesia.
Sejarah bola basket
Basket dianggap sebagai olahraga unik karena diciptakan secara tidak sengaja oleh seorang guru olahraga. Pada tahun 1891, Dr. James Naismith, seorang guru Olahraga asal Kanada yang mengajar di sebuah perguruan tinggi untuk para siswa profesional di YMCA (sebuah wadah pemuda umat Kristen) di Springfield, Massachusetts, harus membuat suatu permainan di ruang tertutup untuk mengisi waktu para siswa pada masa liburan musim dingin di New England. Terinspirasi dari permainan yang pernah ia mainkan saat kecil di Ontario,Naismith menciptakan permainan yang sekarang dikenal sebagai bola basket pada 15 Desember 1891.
Menurut cerita, setelah menolak beberapa gagasan karena dianggap terlalu keras dan kurang cocok untuk dimainkan di gelanggang-gelanggang tertutup, dia lalu menulis beberapa peraturan dasar, menempelkan sebuah keranjang di dinding ruang gelanggang olahraga, dan meminta para siswa untuk mulai memainkan permainan ciptaannya itu.
Pertandingan resmi bola basket yang pertama, diselenggarakan pada tanggal 20 Januari 1892 di tempat kerja Dr.James Naismith. Basket adalah sebutan yang diucapkan oleh salah seorang muridnya. Olahraga ini pun segera terkenal di seantero Amerika Serikat. Penggemar fanatik ditempatkan di seluruh cabang di Amerika Serikat. Pertandingan demi pertandingan pun dilaksanakan di seluruh kota-kota negara bagian Amerika Serikat.
Pada awalnya, setiap tim berjumlah sembilan orang dan tidak ada dribble, sehingga bola hanya dapat berpindah melalui lemparan. Sejarah peraturan permainan basket diawali dari 13 aturan dasar yang ditulis sendiri oleh James Naismith.
Lapangan, waktu, dan jumlah pemain bola basket
Lapangan bola basket berbentuk persegi panjang dengan dua standar ukuran, yakni panjang 28,5 meter dan lebar 15 meter untuk standar National Basketball Association dan panjang 26 meter dan lebar 14 meter untuk standar Federasi Bola Basket Internasional. Tiga buah lingkaran yang terdapat di dalam lapangan basket memiliki panjang jari-jari yaitu 1,80 meter.
Jumlah pemain dalam permainan bola basket adalah 5 orang dalam satu regu dengan cadangan 5 orang. Sedangkan jumlah wasit dalam permainan bola basket adalah 2 orang. Wasit 1 disebut Referee sedangkan wasit 2 disebut Umpire.
Waktu permainan 4 x 10 menit jika berpedoman dengan aturan Federasi Bola Basket Internasioanl. Versi National Basketball Association waktu bermain adalah 4 x 12 menit. Di antara babak 1, 2, 3, dan babak 4 terdapat waktu istirahat selama 10 menit. Bila terjadi skor yang sama pada akhir pertandingan harus diadakan perpanjangan waktu sampai terjadi selisih skor. Di antara dua babak tambahan terdapat waktu istirahat selama 2 menit. Waktu untuk lemparan ke dalam yaitu 5 detik.
Keliling bola yang digunakan dalam permainan bola basket adalah 75 cm - 78 cm. Sedangkan berat bola adalah 600 - 650 gram. Jika bola dijatuhkan dari ketinggian 1,80 meter pada lantai papan, maka bola harus kembali pada ketinggian antara 1,20 - 1,40 meter.
Panjang papan pantul bagian luar adalah 1,80 meter sedangkan lebar papan pantul bagian luar adalah 1,20 meter. Dan panjang papan pantul bagian dalam adalah 0,59 meter sedangkan lebar papan pantul bagian dalam adalah 0,45 meter.
Jarak lantai sampai ke papan pantul bagian bawah adalah 2,75 meter. Sementara jarak papan pantul bagian bawah sampai ke ring basket adalah 0,30 meter. Ring basket memiliki panjang yaitu 0,40 meter. Sedangkan jarak tiang penyangga sampai ke garis akhir adalah 1 meter.
Panjang garis tengah lingkaran pada lapangan basket adalah 1,80 meter dengan ukuran lebar garis yaitu 0,05 meter. Panjang garis akhir lingkaran daerah serang yaitu 6 meter. Sedangkan panjang garis tembakan hukuman yaitu 3,60 meter.
Peraturan permainan bola basket
Aturan dasar pada permainan Bola Basket adalah sebagai berikut:
•    Bola dapat dilemparkan ke segala arah dengan menggunakan salah satu atau kedua tangan.
•    Bola dapat dipukul ke segala arah dengan menggunakan salah satu atau kedua tangan, tetapi tidak boleh dipukul menggunakan kepalan tangan (meninju).
•    Pemain tidak diperbolehkan berlari sambil memegang bola. Pemain harus melemparkan bola tersebut dari titik tempat menerima bola, tetapi diperbolehkan apabila pemain tersebut berlari pada kecepatan biasa.
•    Bola harus dipegang di dalam atau di antara telapak tangan. Lengan atau anggota tubuh lainnya tidak diperbolehkan memegang bola.
•    Pemain tidak diperbolehkan menyeruduk, menahan, mendorong, memukul, atau menjegal pemain lawan dengan cara bagaimanapun. Pelanggaran pertama terhadap peraturan ini akan dihitung sebagai kesalahan, pelanggaran kedua akan diberi sanksi berupa diskualifikasi pemain pelanggar hingga keranjang timnya dimasuki oleh bola lawan, dan apabila pelanggaran tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mencederai lawan, maka pemain pelanggar akan dikenai hukuman tidak boleh ikut bermain sepanjang pertandingan. Pada masa ini, pergantian pemain tidak diperbolehkan.
•    Sebuah kesalahan dibuat pemain apabila memukul bola dengan kepalan tangan (meninju), melakukan pelanggaran terhadap aturan 3 dan 4, serta melanggar hal-hal yang disebutkan pada aturan 5.
•    Apabila salah satu pihak melakukan tiga kesalahan berturut-turut, maka kesalahan itu akan dihitung sebagai gol untuk lawannya (berturut-turut berarti tanpa adanya pelanggaran balik oleh lawan).
•    Gol terjadi apabila bola yang dilemparkan atau dipukul dari lapangan masuk ke dalam keranjang, dalam hal ini pemain yang menjaga keranjang tidak menyentuh atau mengganggu gol tersebut. Apabila bola terhenti di pinggir keranjang atau pemain lawan menggerakkan keranjang, maka hal tersebut tidak akan dihitung sebagai sebuah gol.
•    Apabila bola keluar lapangan pertandingan, bola akan dilemparkan kembali ke dalam dan dimainkan oleh pemain pertama yang menyentuhnya. Apabila terjadi perbedaan pendapat tentang kepemilikan bola, maka wasitlah yang akan melemparkannya ke dalam lapangan. Pelempar bola diberi waktu 5 detik untuk melemparkan bola dalam genggamannya. Apabila ia memegang lebih lama dari waktu tersebut, maka kepemilikan bola akan berpindah. Apabila salah satu pihak melakukan hal yang dapat menunda pertandingan, maka wasit dapat memberi mereka sebuah peringatan pelanggaran.
•    Wasit berhak untuk memperhatikan permainan para pemain dan mencatat jumlah pelanggaran dan memberi tahu wasit pembantu apabila terjadi pelanggaran berturut-turut. Wasit memiliki hak penuh untuk memberikan diskualifikasi pemain yang melakukan pelanggaran sesuai dengan yang tercantum dalam aturan 5.
•    Wasit pembantu memperhatikan bola dan mengambil keputusan apabila bola dianggap telah keluar lapangan, pergantian kepemilikan bola, serta menghitung waktu. Wasit pembantu berhak menentukan sah tidaknya suatu gol dan menghitung jumlah gol yang terjadi.
•    Waktu pertandingan adalah 4 quarter masing-masing 10 menit
•    Pihak yang berhasil memasukkan bola ke ring terbanyak akan dinyatakan sebagai pemenang [1]
Teknik dasar permainan bola basket
Cara memegang bola basket adalah sikap tangan membentuk mangkok besar. Bola berada di antara kedua telapak tangan. Telapak tangan melekat di samping bola agak ke belakang, jari-jari terentang melekat pada bola. Ibu jari terletak dekat dengan badan di bagian belakang bola yang menghadap ke arah tengah depan. Kedua kaki membentuk kuda-kuda dengan salah satu kaki di depan. Badan sedikit condong ke depan dan lutut rileks.
Dalam menangkap bola harus diperhatikan agar bola berada dalam penguasaan. Bola dijemput telapak tangan dengan jari-jari tangan terentang dan pergelangan tangan rileks. Saat bola masuk di antara kedua telapak tangan, jari tangan segera melekat ke bola dan ditarik ke belakang atau mengikuti arah datangnya bola. Menangkap bola (catching ball) terdiri dari dua macam cara yaitu menangkap bola di atas kepala dan menangkap bola di depan dada.
Mengoper atau melempar bola terdiri atas tiga cara yaitu melempar bola dari atas kepala (over head pass), melempar bola dari dari depan dada (chest pass) yang dilakukan dari dada ke dada dengan cepat dalam permainan, serta melempar bola memantul ke tanah atau lantai (bounce pass).
Menggiring bola (dribbling ball) adalah suatu usaha membawa bola ke depan. Caranya yaitu dengan memantul-mantulkan bola ke lantai dengan satu tangan. Saat bola bergerak ke atas telapak tangan menempel pada bola dan mengikuti arah bola. Tekanlah bola saat mencapai titik tertinggi ke arah bawah dengan sedikit meluruskan siku tangan diikuti dengan kelenturan pergelangan tangan. Menggiring bola dalam permainan bola basket dapat dibagi menjadi dua cara, yaitu menggiring bola rendah dan menggiring bola tinggi. Menggiring bola rendah bertujuan untuk melindungi bola dari jangkauan lawan. Menggiring bola tinggi dilakukan untuk mengadakan serangan yang cepat ke daerah pertahanan lawan.
Pivot atau memoros adalah suatu usaha menyelamatkan bola dari jangkauan lawan dengan salah satu kaki sebagai porosnya, sedangkan kaki yang lain dapat berputar 360 derajat.


Seorang pemain basket melakukan shooting dengan dua tangan.
Shooting adalah usaha memasukkan bola ke dalam keranjang atau ring basket lawan untuk meraih poin. Dalam melakukan shooting ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan shooting dengan dua tangan serta shooting dengan satu tangan.
Lay-up adalah usaha memasukkan bola ke ring atau keranjang basket dengan dua langkah dan meloncat agar dapat meraih poin. Lay-up disebut juga dengan tembakan melayang.
Teknik permainan bola basket profesional
•    Fade Away
Fade away adalah tehnik yang mendorong badan kebelakang saat melakukan shoot, sehingga menyulitkan defender untuk menghadang bola. tehnik ini lumayan susah dilakukan buat pemain yang baru belajar basket. Bila keseimbangan badan tidak terjaga bisa-bisa terpelanting dan jatuh kebelakang. Pemain NBA yang sering memakai teknik ini adalah sang legenda basket seperti Michael Jordan dan Kobe Bryant.
•    Hook Shoot
Hook adalah teknik yang sangat efektif bila pemain dijaga oleh orang yang lebih tinggi dari pemain. Yaitu cara menembak dari samping dengan satu tangan. Jadi jarak antara orang yang menghadang dan pemain bisa agak jauh. Belakangan tehnik ini sering dipakai oleh Rony Gunawan Satria Muda Britama waktu melawan Garuda Bandung di Final 2009, dan keakuratan mencapai 80%.

•    Jump Shoot
Teknik yang butuh lompatan tinggi, dan akurasi tembakan yang bagus. Yaitu dengan melompat dan melakukan tembakan yang liar dan sulit untuk digagalkan .
•    crossover
merupakan cara dribble dengan cara memantulkan bola dari tangan kiri ke tangan kanan atau sebaliknya. biasanya teknik sudah banyak di improvisasi dengan cara memantulkan bola di antara celah kaki (kebanyakan pemain internasional sudah menggunakan teknik ini) atau belakang kaki (yang paling sering menggunakan teknik ini adalah Jamal Crawford - Atlanta Hawks)
•    Slam dunk
Slam dunk adalah salah satu teknik yang paling populer. Sebenarnya cukup simpel, yaitu hanya memasukkan bola secara langsung ke ring dan menghempaskan tangan ke ring basket. Walaupun simpel, tapi untuk orang dengan tinggi 171 cm slam seperti ini hampir mustahil untuk dilakukan karena lompatannya tidak cukup tinggi. [2]
Perkembangan
Permainan basket sudah sangat berkembang dan digemari sejak pertama kali diperkenalkan oleh James Naismith. Salah satu perkembangannya adalah diciptakannya gerakan slam dunk atau menombok, yaitu gerakan untuk memasukkan dan melesakan bola basket langsung ke dalam keranjang yang bisa dilakukan dengan gerakan akrobatik yang berkekuatan luar biasa.
Bola basket di Indonesia
Ada beberapa informasi mengatakan masuknya basket bersamaan dengan kedatangan pedagang dari Cina menjelang kemerdekaan. Tepatnya, sejak 1894, bola basket sudah dimainkan orang-orang Cina di Provinsi Tientsien dan kemudian menjalar ke seluruh daratan Cina. Mereka yang berdagang ke Indonesia adalah kelompok menengah kaya yang memilih olahraga dari Amerika itu sebagai identitas kelompok Cina modern.
Informasi ini diperkuat fakta menjelang dan pada awal kemerdekaan klub-klub bola basket di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, Semarang, DI Yogyakarta, dan Surabaya sebagian besar tumbuh dari sekolah-sekolah Cina. Dari klub itu pula kemudian lahir salah seorang pemain legenda Indonesia, Liem Tjien Siong yang kemudian dikenal dengan nama Sonny Hendrawan (Pada 1967 Sonny terpilih sebagai Pemain Terbaik pada Kejuaraan Bola Basket Asia IV di Seoul, Korea Selatan. Waktu itu, tim Indonesia menduduki peringkat ke-4 di bawah Filipina, Korea, dan Jepang).

Pada 1948, ketika Negara Indonesia menggelar PON I digelar di Solo, bola basket, sudah menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan. Ini membuktikan bahwa basket cepat memasyarakat dan secara resmi diakui Negara. Tiga tahun kemudian, Maladi sebagai Sekretaris Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang kemudian menjadi Menteri Olahraga, meminta Tonny Wen dan Wim Latumeten untuk membentuk organisasi bola basket. Namun akhirnya karena tuntutan kebutuhan untuk menyatukan organisasi basket, disepakati pembentukan Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia pada 1955, disingkat Perbasi.[3]


Read more